Teror atau terorisme,
dua kata yang identik dengan menakut-nakuti bahkan tak jarang juga di
identikkan dengan kekerasan. Atau dengan kata lain, terorisme adalah suatu cara
atau taktik atau strategi yang digunakan oleh kelompok radikal dalam melakukan
aksi, ancaman, dan kekerasan demi mencapai tujuan tertentu. Dimana cara atau
taktik yang digunakan adalah menanamkan ketakutan dan teror kepada korbannya
yang telah dipilih secara acak, dengan tujuan memberikan ketidaknyamanan atau
ketidakamanan ditengah masyarakat.
Berbicara tentang terorisme, dalam beberapa tahun belakangan ini aksi terorisme
semakin merajalela, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Bahkan di
mata masyarakat di anggap sebagai salah satu ancaman potensial, karena
keberadaannya telah membuat semua orang menjadi cemas, takut, dan juga was-was.
Secara garis besar, terorisme terbagi menjadi dua peran.
Peran pertama adalah teroris aktif dan kedua adalah teroris pasif. Apa itu
teroris pasif? Terorisme pasif adalah teroris yang bergerak dengan soft dalam
elemen-elemen masyarakat yang mempunyai maksud menyebarkan paham-paham terorismenya
kepada masyarakat luas dengan tujuan akhir membuat para korban ter’cuci otak’
akan paham-paham tersebut.
Dewasa
ini banyak sekali dilakukan upaya-upaya pemberantasan teroris yang dilakukan
pemerintah secara nyata dengan melawan teroris secara adu senjata. Hasilnya
memang cukup mengundang kekaguman pada pemberantas teroris yang diutus oleh
pemerintah. Namun bagaimanakah upaya pemberantasan teroris pasif? Apa yang
harus dilakukan untuk memberantasnya?
Teroris Pasif memiliki dasar gerakan dengan menmpengaruhi pola pikir seseorang
sehingga sang korban seperti di kendalikan dengan ‘ideologi’ baru yang
ditanamkan sang penyebar paham terorisme. Dengan demikian untuk memberantasnya,
masyarakat harus bisa menyeleksi dan menangkal setiap paham baru yang baru
didengar. Tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada penjelasan yang jelas
(merujuk pada kitab suci Agama). Dengan begitu paham-paham yang akan disebarkan
oleh sang teroris tidak mudah merasuk ke dalam pikiran seseorang.
Selain dari peranan masyarakat itu sendiri, pemberantasan teroris
pasif ini dapat dilakukan oleh pemerintah dengan membangun fasilitas-fasilitas
pendidikan yang menekankan pada pembentukan karakter (character building) yang berdasar pada
ajaran Agama serta norma dan nilai yang baik dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan sifat yang berkarakter dan kokoh, seseorang tidak akan mudah terpengaruh
dengan paham-paham terorisme yang mulai banyak beredar belakangan ini. Teroris
pasif akan sulit bergerak dalam tiap elemen masyarakat, dan penyebaran
paham teroris akan berkurang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar